Minggu, 31 Oktober 2021


Oleh: H. Ahmad Syaikhu

Dalam Mencapai kemenangan, Semangat dan optimisme itu harus diikuti dengan lima syarat untuk meraih kemenangan. Apa saja? berikut penjelasnnya :


Pertama, kita harus menjaga nilai dalam perjuangan (Winning Value). 


Yakni nilai-nilai yang harus dimiliki agar layak mendapatkan kemenangan. Salah satu nilai penting adalah kejujuran dan komitmen. Kampanye pilkada untuk meraih dukungan pemilih yang paling tepat ialah menyodorkan bukti rekam jejak kandidat yang sudah teruji di tengah masyarakat. Tampilkan sisi-sisi positif dari pelayanan dan pembelaan kandidat selama ini terhadap isu-isu publik, sambil membangun komitmen dengan komunitas dan kelompok strategis di tengah masyarakat.

Kedua, kita harus memiliki Konsep Pemenangan yang Jelas (Winning Concept).

Konsep yang realistik untuk mencapai kemenangan di tengah sistem penyelenggaraan pilkada yang penuh kelemahan dan kondisi masyarakat yang didominasi budaya pragmatisme. Pemenangan itu berbasis TPS sebagai tempat perebutan pengaruh, sehingga         harus   diidentifikasi   karakteristik    pemilih            pada    tiap TPS yang mungkin berbeda-beda. Pendekatan pada tiap TPS      bersifat            spesifik            sesuai  dengan            segmen           pemilih            yang paling dominan dan paling terbuka untuk menerima pesan. Problem utama pemilu di Indonesia ialah Daftar Pemilih Tetap (DPT) yang kadang tak sesuai dengan kondisi pemilih di lapangan. Akibatnya terbuka peluang oknum tertentu untuk memanipulasi DPT bagi kepentingan diri dan partainya.

Ketiga, kita harus memiliki Sistem Pemenangan yang Jelas (Winning System).

Bila kita telah menjalankan konsep pemenangan berbasis TPS, maka harus disiapkan cara pengamanan untuk tiap perolehan suara. Para saksi di TPS berkoordinasi dengan saksi di kelurahan/kecamatan (PPK) dan KPUD, agar seluruh berkas hasil pemilihan terjaga dengan baik. Jangan hanya sibuk dengan perolehan suara PKS, sebab komposisi perolehan suara partai/kandidat lain juga akan menentukan, termasuk jumlah pemilih yang menunaikan haknya dan angka Golput atau suara tidak sah.

Para saksi itu harus didukung secara logistik dan jaringan informasi, serta dipersiapkan penggantinya bila kondisi sakit atau berhalangan. Tim advokasi hukum dan keamanan dimobilisasi untuk mencegah kecurangan dan melakukan pembelaan bila terjadi sengketa hasil pilkada.

Keempat, kita harus memiliki Tim yang Solid (Winning Team). 

Konsep dan sistem pemenangan terbaik tidak akan ada artinya tanpa SDM operasional yang siap bekerjasama dan memiliki stamina. Di sini diperlukan kesatuan komando pada tiap jenjang organisasi. Setiap pelaksana dan petugas fokus dengan tanggung-jawabnya dan selalu berkoordinasi dengan atasan yang memberi arahan. Atasan ini yang mengetahui peta situasi dan target yang harus dicapai dengan mempertimbangkan semua kendala di lapangan. Sehingga atasan bisa memberi sokongan moral bagi pelaksana/petugas yang kelelahan atau mendapat tekanan dari pihak lain. Atasan juga memberikan penghargaan kepada anggotanya atas segala jerih-payah dan pengorbanan yang diberikan. Atasan dan seluruh anggota di bawahnya ibarat suatu organisme hidup yang menyatu hati dan pikirannya untuk proses pemenangan.

Kelima, kita punya tujuan yang jelas (Winning Goal). 

Motivasi paling kuat bagi setiap manusia untuk berjuang dan berkorban adalah menetapkan tujuan yang akan dicapai. Seseorang yang memiliki tujuan hidup gamblang akan tabah menjalani semua prosedur dan tahan banting menghadapi segala rintangan, karena dia tahu tujuan akhir lebih bernilai daripada pengorbanan apapun. Tujuan partai ikut serta dalam kompetisi politik (pilkada) adalah untuk mendapat kepercayaan masyarakat agar mampu mengelola potensi daerah yang melimpah. Tujuan itu bersifat luhur dan mengatasi segala kepentingan yang sempit. Para kandidat kepala daerah harus menyadari bahwa mereka adalah mandatori partai dan membawa misi politik yang luhur. Jangan sampai terjebak pada godaan sesaat yang popular disebut “3 TA” (tahta, harta dan wanita/pasangan).

Kekuasaan akan membius kita seakan-akan semua orang bisa dikendalikan, kekayaan akan menyihir seakan-akan semua perkara dapat dibeli, wanita/pasangan dapat melalaikan seolah-olah hidup sekadar untuk mendapat segala rupa kesenangan. Falsafah Jawa itu mengingatkan kita semua tentang godaan sesaat, harus dihadapi dengan TA keempat, yakni Waskita (kebijaksanaan) dalam mengelola semua fasilitas hidup. Seseorang yang memahami tujuan hidup dengan jelas akan mampu mengelola dan mengoptimalkan segala fasilitas yang didapatkan. Meraih dukung an untuk berkuasa adalah perjuangan, maka mengelola kekuasaan untuk mewujudkan tujuan luhur adalah perjuangan yang lebih berat.

Jika lima hal di atas dilakukan, insya Allah kemenangan yang diraih akan bermartabat dan berkah.

Allah SWT mengingatkan hal ini dalam Surah Al-Hajj: 77.

 يَٰأَُّٓيهَا ٱَّلذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرْكَعُوا۟ وَٱسْجُدُوا۟ وَٱعْبُدُوا۟ رََّبكُمْ وَٱفْعَلُوا۟ ٱلخَْيْرَ لعَََّلكُمْ

 تُفْلِحُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.”

Rasululkah Saw juga berpesan dalam sebuah hadits yang dicatat Imam Abu Dawud 1227 berikut ini:

 حَدَّثَنَا مُؤَمَّلُ بْنُ الفَْضْلِ الحَْرَّانِيُّ حَدَّثَنَا الوَْلِيدُ حَدَّثَنَا ابْنُ جَابِرٍ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَرْطَاةَ الفَْزَارِيِّ عَنْ جُبَيْرِ بْنِ نُفَيْرٍ الحَْضْرَمِيِّ أََّنهُ سَمِعَ أَبَا الدَّرْدَاءِ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ الَّلِ صََّلى الَّلُ عَليَْهِ وَسََّلمَ يَقُولُ ابْغُونِي الضُّعَفَاءَ فَإَِّنمَا تُرْزَقُونَ وَتُنْصَرُونَ بِضُعَفَائِكُمْ قَالَ أَبُو دَاوُد زَيْدُ بْنُ أَرْطَاةَ أَخُو

 عَدِيِّ بْنِ أَرْطَاةَ

Telah menceritakan kepada kami [Muammal bin Al Fadhl Al Harrani], telah menceritakan kepada kami [Al Walid], telah menceritakan kepada kami [Ibnu Jabir], dari [Zaid bin Arthaah Al Fazari], dari [Jubair bin Nufair Al Hadhrami], bahwa ia mendengar [Abu Ad Darda] berkata; saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: “Carikan orang-orang lemah untukku, sesungguhnya kalian diberi rizki dan diberi kemenangan karena orang-orang lemah di antara kalian.” Abu Daud berkata; Zaid bin Arthaah adalah saudara ‘Adi bin Arthaah.

Jadikan ridha Allah SWT sebagai tujuan hidup kita. Lalu penuhi syarat-syarat meraih kemenangan. Dekatlah dengan Masjid. Dekatlah dengan Orang Miskin. Sebab bisa jadi, mela lui orang-orang lemah inilah kita menggapai keme nangan.

Safari Pemenangan Pilkada dimulai di Kota Depok, Jawa Barat sebagai bagian konsolidasi pemenangan PKS pada pilkada di Jawa Barat. Jajaran DPTP PKS akan langsung turun gunung ke daerah-daerah guna memenangkan calon yang diusung dan didukung oleh PKS. Dalam berbagai survei terakhir, kepercayaan masyarakat terhadap PKS terus meningkat. Kepercayaan publik yang meningkat itu tidak boleh disia-siakan oleh semua komponen di PKS agar wajib berjuang keras memenangkan Pilkada 2020.

Ini merupakan momentum berharga untuk bisa terus mendapatkan kepercayaan publik dan meraih peningkatan suara di berbagai kontestasi pemilu ke depan. Kita harus optimistis. Dalam Pilkada 2020 kita harus berjuang all out. Seluruh pejabat publik, pengurus dan kader, baik di pusat, wilayah dan daerah adalah ujung tombak pemenangan dalam perhelatan Pilkada.

Semangat berjuang all out yang melandasi Safari Pemenangan Pilkada 2020 dari pimpinan PKS ke daerah-daerah harus menjalar ke seluruh kader dan simpatisan. Safari Pemenangan Pilkada ini ingin memastikan semangat dan optimisme kemenangan terus kita tinggikan hingga 9 Desember 2020 mendatang, saat pencoblosan. Sebab modal dasar yang dimiliki PKS adalah kader yang militan, struktur yang solid serta kerjasama kolektif yang baik.

Depok menjadi tuan rumah Safari Pemenangan Pilkada PKS pertama dengan dukungan terhadap pasangan nomor urut 2 yaitu pasangan Idris - Imam. Depok menjadi tonggak safari pemenangan ini. Insya Allah dukungan masyarakat Depok untuk Idris - Imam akan menjadi penyulut semangat daerah-daerah lain guna memenangkan pasangan yang diusung dan didukung oleh PKS.

Sejak pilkada langsung dilaksanakan pertama kali di Indonesia, 2006, PKS selalu berpartisipasi dalam Pilkada dan Alhamdulillah untuk pilkada Kota Depok selalu mendapat kepercayaan publik untuk memimpin sebagai Walikota. Walikota perdana dari kader PKS adalah Dr. Nur Mahmudi Ismail yang menjabat selama dua periode (2006-2016), berkoalisi dengan partai-partai politik lainnya. Kepemimpinan Nur Mahmudi dilanjutkan oleh Dr. Mohammad Idris.

Banyak pihak bertanya dengan nada kritis, “Selama 15 tahun PKS berkuasa di Kota Depok, perubahan apa yang dirasakan masyarakat? Apa bedanya PKS berkuasa dibanding kan dengan partai politik dan kandidat lain yang berkuasa?” Pertanyaan sekaligus kritik itu merupakan masukan berharga bagi PKS, karena itu kepala daerah dari kader PKS harus menampungnya dan meresponnya secara proporsional. Tidak perlu emosi dan reaktif, seakan-akan semua keluhan masyarakat tidak berdasar dan hanya cermin ketidakpuasan kelompok tertentu. Biasanya yang terjadi karena kurang efektif dan luasnya komunikasi publik pejabat dengan seluruh elemen masyarakat, mungkin hanya mengandalkan komunikasi resmi lewat jalur birokrasi, sehingga capaian pembangunan dibayangkan telah diketahui semua warga. Padahal, masih banyak warga yang berada di pinggiran dan mungkin belum tersentuh komunikasi aparat Pemda. Kepala Daerah harus aktif terjun ke pelosok daerah kekuasaannya dan menyerap aspirasi dari segala lapisan warga.

Perubahan yang dilakukan PKS mungkin tidak hanya bersifat fisik berupa pembangunan infrastruktur publik, tetapi banyak yang bersifat nonfisik, misalnya pelayanan publik yang lebih mudah dan cepat, serta kebijakan yang melindungi rakyat banyak. Perubahan yang bersifat fisik seperti pembangunan taman-taman kota dan Alun-alun Kota Depok harus dirasakan manfaatnya oleh semua warga dan dimonitor jumlah warga yang memanfaatkan fasilitas tersebut. Kesan positif akan muncul dari warga yang merasakan langsung perbaikan jalan-jalan publik, saluransaluran air, pasar-pasar tradisional, ruang-ruang belajar, fasilitas puskesmas dan lain-lain. Biarkan mereka bersuara (public voices) sebagai saksi langsung penerima manfaat dan buka forum untuk menggemakan suara warga yang asli, sehingga kelompok-kelompok yang tidak puas akan terlihat dengan sendirinya. Ketidakpuasan yang muncul juga dapat ditelusuri lebih jauh, apakah murni berdasarkan pengalaman nyata di lapangan atau hanya untuk memenuhi kepentingan pribadi dan kelompok karena merasa kepentingannya tidak diakomodir.

Semangat dan optimisme itu harus diikuti dengan lima syarat untuk meraih kemenangan.

Untuk memenangkan pilkada, kita perlu menyerap dan memperjuangkan aspirasi warga. Pasca pilkada, kita harus mengelola aspirasi dan dukungan itu lebih optimal dengan pelibatan dalam program-program Pemerintah Daerah.

Untuk memenangkan pilkada, 
kita perlu menyerap dan
memperjuangkan aspirasi warga.
Pasca pilkada, kita harus mengelola aspirasi dan dukungan itu lebih optimal dengan pelibatan dalam program bermanfaat

Referensi Utama dari Buku : 
MENYELAMATKAN DEMOKRASI DI MASA PANDEMI. 
Penulis : Mohamad Sohibul Iman, Ahmad Heryawan, Ahmad Syaikhu, Habib Aboe Bakar Alhabsyi. Semangat dan optimisme itu harus diikuti dengan lima syarat untuk meraih kemenangan.

0 komentar:

Posting Komentar

Berpolitik adalah Ibadah, Mari Berdakwah dg penuh Hikmah dan Amanah, demi Kejayaan Ummah

Selamat Datang di Sekolah Kepemimpinan Istana Mulia (IM) : Welcome to School of Leadership

Jika ingin berbagi silahkan kirim email ke sahabatayi@gmail.com

Studi Bidang Kepemimpinan dan Kewirausahaan Populer