Sabtu, 04 Desember 2021

Sahabat HEBAT Mulia, kali ini saya berbagi catatan istimewan dari sohib saya, pakar Tarbiyah dan Manajemen, Ust Satria Hadi Lubis,MM dengan tema besarnya "MENANG DENGAN PROGRAM BESAR TARBIYAH" selamat menikmati kopinya! 


POLITIK & TARBIYAH

"Jangan sampai perhatian kita kepada politik mengalahkan perhatian kita kepada tarbiyah", Begitu ujar Syekh Musthafa Masyhur.

Beliau mengingatkan kita betapa tarbiyah itu urgen dan penting. Memang, tarbiyah bukanlah segala-galanya, tapi segala-galanya berawal dan berakhir dengan tarbiyah. 

Tarbiyah adalah ruh gerakan dakwah. Tarbiyah adalah jiwa dalam amal dakwah. Sekali kita menggeser tarbiyah menjadi kegiatan sekunder dan tak penting, maka kita menjauhkan dakwah ini dari tujuannya sekaligus membuat dakwah rapuh dan jauh dari kemenangan. 

Program besar tarbiyah bertujuan mencetak kader berkualitas sebanyak-banyaknya. Dalam istilah Al-Qur’an disebut Ribbiyuuna Katsiir (Qs. 3 ayat 146).


Ada lima hal yang perlu dilakukan dalam program besar tarbiyah:


1. Membudayakan tarbiyah dzatiyah.

Tarbiyah dzatiyah di sini bukan sebatas membaca buku atau mengembangkan pemahaman dan ilmu secara mandiri, tetapi yang paling mendasar adalah meningkatkan ibadah yaumiyah. Tarbiyah dzatiyah berarti upaya personal kader dakwah untuk bermujahadah (sungguh-sungguh) membiasakan ibadah-ibadah sunnah. Mulai dari tilawah, qiyamullail, shalat sunnah, dzikir, hingga puasa sunnah. Tarbiyah dzatiyah seperti itu akan membuat ikhwah lebih imun terhadap godaan, mencegahnya dari kemaksiatan dan membuatnya istiqamah di medan perjuangan.

Liqo' sudah memiliki program berupa muhasabah (laporan) ibadah yaumiah (harian), maka hal ini harus terus dihidupkan agar ada fastabiqul khoirot dan saling menasehati di antara peserta.


2. Penyegaran liqo'/halaqah. 

Yakni dengan terus memperbaiki dinamika dan produktivitas liqo'. Dinamisasi liqo' bertujuan agar liqo' tidak menjemukan, sehingga peserta antusias untuk hadir dengan semangat saling berbagi.


Produktivitas liqo' maksudnya adalah liqo' bukan sekedar “dinikmati” dan dirindukan tiap pekan, tetapi juga mampu mencapai tiga tujuan utama liqo', yakni : membentuk muwashafat (sifat-sifat) yang baik pada diri peserta, mencetak peserta menjadi murabbi dan mengembangkan potensi peserta secara maksimal. 


3. Mencetak para muwajih (penceramah).

Karena tidak semua muslim langsung tertarik dengan liqo', maka menghidupkan majelis taklim menjadi hal yang penting sebagai sarana antara untuk menuju liqo'.


Saat ini minat terhadap majelis taklim dengan berbagai bentuknya semakin meningkat seiring hausnya masyarakat modern dengan nilai-nilai spritual. 


Namun, ketersediaan muwajih majelis taklim masih sangat terbatas sehingga agenda untuk mencetak muwajih menjadi sangat penting. 


4. Mencetak para murabbi.

Sebagaimana liqo' merupakan sarana paling efektif dalam kaderisasi dakwah, ketersediaan murabbi juga sangat penting.


Selain menyelenggarakan daurah atau program lain untuk menyiapkan murabbi, sebaiknya juga ada semacam "sertifikasi" murabbi untuk memacu ikhwah menjadi murabbi yang handal.


5. Mengokohkan fikrah dakwah. 


Di era milenial ini tantangan dakwah semakin beragam, sehingga menjaga asholah fikrah (keaslian pola pikir) dakwah menjadi sangat penting agar komitmen dakwah tidak tergerus pada diri kader dakwah. 

Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah secara rutin mengkaji dan membaca kembali buku-buku mufakir dakwah generasi awal.

Dengan mengoptimalkan segala program tarbiyah seperti tersebut diatas, insya Allah dakwah akan berkembang dan Islam yang rahmatan lil alamiin akan terwujud.

Terakhir, renungkanlah kalimat bijak dari Syekh Hasan al Banna berikut ini :    


“Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya ditengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan dan kehidupan yang baik bagi tanah air dibawah naungan Islam yang hanif. Akulah lelaki bebas yang telah mengetahui rahasia wujudnya, maka ia pun berseru, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah swt dan tiada sekutu baginya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan, dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri. Inilah aku. Dan kamu, kamu sendiri siapa??"


By. Satria hadi lubis

Studi Bidang Kepemimpinan dan Kewirausahaan Populer